Sesuatu yang bernilai tinggi akan mampu membuat kemampuan yang tingi pula.
Suatu contoh : Air
Air mempunyai kemampuan menghlangkan dahaga di kala seseorang kehausan. Di samping itu, air mempunyai kemampuan lain, seperti untuk mengolah ( ebaga campuran ) agar beras mampu menjadi nasi.
Untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai diperlukan pengorbanan, sesuai dengan besar - kecilnya nilai.
Dari nilai inilah ditentukan berapa harga yang harus dikorbankan oleh orang yang mau mendapatkan nilai tersebut.
Tanpa melalui pengorbanan, sesuatu yang bernilai tidak akan didapat.
Sebaliknya pengorbanan yang tidak sesuai dengan tujuan tidak akan mampu memenuhi harapan
Al Qur'an sebagai petunjuk Alloh, adalah merupakan sajian ( hidangan ) bagi manusia,
Isinya merupakan taqdir Alloh, Yang dimaksud dengan taqdir di sini adalah nilai nilai ( qadar ) yang mampu memenuhi harapan manusia seutuhnya, baik terhadap manusia yang berharap hidup tepat dalam mencapai hasanah di dunia maupun di akhirat, ataupun terhadap mereka yang mau memenuhi suul maab ( hidup rugi dan merugikan ).

Secara objektif ilmiah, Al Qur'an memaparkan secara komparatif. Acuan yang dikemukakan oleh Al Qur'an menurut sunnah Rosul meliputi yang khair ( benar ) dan yang syar ( salah ).
Di dalam hadis riwayat Bukhary dinyatakan : " Khairuhu wa syarruhu minallaah ".
Terhadap tawaran tersebut, manusia dipersilahkan untuk memilihnya ( berihtiar ).
Alloh mengarahkan agar manusia dalam menentukan pilihannya jangan terburu nafsu ( Al Qur'an surat Asy Syuura ayat 13 )
Terhadap manusia yang mau mengerti apakah nilai nilai kehidupan yang objektif ilmiah, surat Asy Syuura ayat 11 dan 12 menyatakan bahwa Al Qur'an adalah benar merupakan suatu petunjuk ke arah yang lebih tangguh.
Bagi mereka yang berpandangan dan bersikap hidup menurut nilai yang nuur menurut sunnah Rosulnya, pasti akan tepat dalam mencapai tujuan hidupnya yaitu hasanah fid dunyaa dan hasanah fil akhirat.
Sebaliknya mereka yang berpandangan destruktif ( kufur ) terhadapnya, dalam arti berpandangan dan bersikap hidup selainnya, senantiasa akan hidup di dalam bara yang penuh dengan baku hantam, saling mencari kesempatan, saling curiga mencurigai, saling menindas dll sebutan yang pantas.
Lacurnya, ada sekelompok manusia yang kerjanya menjadi pedagang nilai yang syar ( negatif ) dengan memakai bungkus Al Qur'an.
Al Qur'an dijadikan sebagai minyak pelumas agar bisnisnya mendapat pasaran terhormat.
Terhadap mereka yang demikian ini, banyak dikemukakan di dalam Al Qur'an antara lain :